Monday, September 26, 2011

Orang Dayak Tidak Makan Orang!

Orang yang belum pernah dating ke Kalimantan, tentu akan takut dengan mitos yang mengatakan bahwa orang Dayak memakan manusia atau sebagai suku kanibal. Anggapan ini ada sudah pasti keliru jika kita berpikiran sekarang yang dalam peradapan manusia telah memasuki abad 21. Tetapi, bagaimana jika dahulu, ketika Pulau Kalimantan masih dihuni oleh suku-suku asli dan belum ada pendatang dari suku Jawa, Bugis ataupun dari suku-suku lainnya?


Dari penuturan cerita nenek dan tetua-tetua dahulu, dapat dipastikan bahwa suku Dayak memang memakan manusia. Tidak tanggungtanggung yang dimakan adalah "inti" manusia yaitu hati, dan jantung korban setelah kepala korbannya dipenggal atau istilahnya "diayau".

Anggapan yang mungkin keliru bahwa orang Dayak makan orang adalah bahwa manusia atau korban yang dimakan bukan karena tidak ada makanan atau orang Dayak memang suk adaging manusia. Sumber makanan di hutan Kalimantan sangat berlimpah. Binatang seperti rusa, babi, jenis ular-ularan, ikan disungai dan berbagai hewan lainnya sangat melimpah. Tentu bahwa anggapan orang Dayak doyan makan orang adalah salah!


Menurut orang Kalimantan yang didasari dari cerita-cerita dari turun temurun, suku Dayak memang diyakini memakan manusia! Manusia yang dimakan adalah manusia yang mereka anggap musuh. Bisa saja pada saat pertempuran antar suku dalam memperebutkan wilayah. Atau terhadap pendatang yang "serakah" mengambil hasil-hasil hutan dengan tidak mematuhi adat istiadat.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa Pulau Kalimantan yang sangat luas dan menjadi pulau ke dua terluas di dunia setelah Pulau Irian, penduduknya sangat jarang. Bayangkan saja, untuk Provinsi Kalimantan Timur, luasnya satu setengah kali pulau Jawa dan Madura. Sementara penduduknya (menurut hasil sensus penduduk 2010 berjumlah 3,5 juta).

Bayangkah juga, dengan luasan yang begitu dan penduduk yang tersebar di daerah perbatasan, pedalaman dan pesisir, adakah aparat hokum seperti polisi dan tentara yang bertugas menegakkan hokum? Tentu tidak ada. Bayangkan, bagaimana jika pendatang yang berada di barak-barak perusahaan kayu di dalam hutan dapat tidur dengan tenang jika tiap makam terus didatangi "orang asing" yang selalu mengintip atau mencuri sedikit makanan?

Bagaimana, jika salah seorang dari pekerja yang dianggap musuh (yang dapat dikarenakan orang tersebut melanggar hokum adat) oleh orang Dayak diculik dan dipengggal kepalanya? Apakah hokum dapat mengetahuinya? Tentu tidak bisa dibuktikan. Telah banyak kasus orang "raib" di belantara Kalimantan tanpa dilaporkan ke pihak kepolisian.

Selaki lagi, orang Dayak makan orang itu ada dan nyata! Maksudn dari kanibalisme ini bukan karena lapar, atau suka akan daging manusia, tetapi karena orang tersebut dianggap sebagai musuh. Maksud lainnya, dengan memakan hati atau jantung korban, maka arwah korban tidak akan menghantui atau menguasai pikiran pembunuhnya!

Tetapi jka kita bertanya pada orang Dayak yang telah tersentuh kebudayaan luar dan pembangunan, tentu mereka menyangkalnya. Mana ada orang yang mau suku kebanggaannya dicap sebagai suku kanibal. Bahkan seorang teman Dayak saya berkelakar "Kami tidak makan orang, tetapi Kami senang makan jeroan dan isi perut!! Kami tidak memakan mentah, teapi telah dimasak dan diberi bumbu!!," ujarnya sambil tertawa lepas.

Bagaimana jika kita dating dengan damai dan dapat menghormati adat orang Dayak? Jangan takut, orang Dayak adalah suku yang sangat ramah dalam menyambut tamu. Jangankan makanan dan penginapan, tetapi (maaf) anak gadis atau istri mereka pun mereka berikan sebagai penghormatan! Ini bukan isapan jempol, banyak cerita yang beredar demikian.

Itu salah satu bukti bahwa dibalik keperkasaan orang Dayak dalam berperang, mereka juga ramah dalam menyambut tamu yang dating. "Niat baik dibalas kebaikan, dan niat jahat dibalas dengan ilmu (hitam) dan ayau (potong) kepala," ujar mereka!

Sumber : vivaborneo.blogspot.com