Thursday, September 29, 2011

Tren Penularan HIV/AIDS Beralih Pada Heteroseksual

http://i.poskota.co.id/uploads/2011/09/hiv-aids-pita-merah.jpg

Sejak tahun 2008, tren penularan HIV/AIDS beralih yaitu dari pecandu narkoba menjadi perilaku heteroseksual. Dari perilaku heteroseksual tersebut, jumlah laki-laki positif HIV/AIDS lebih tinggi ketimbang wanita, dengan usia dominan yaitu 20-29 tahun.

Koordinator Bidang Ilmiah Pertemuan Nasional (Pernas) AIDS IV, Yanri Subrongto mengatakan tren penularan berubah karena berbagai faktor. Untuk faktor dari pecandu narkoba, saat ini sudah banyak terapi yang telah dilakukan, sehingga banyak dari pecandu yang sudah sembuh. Sementara itu, dari faktor heterokseksual sendiri, belum ada regulasi tentang Pekerja Seks Komersial (PSK).

"PSK bisa pergi ke mana-mana tanpa dibatasi aturan, dan bisa saja membawa virus. Hal inilah yang memicu peningkatan kasus HIV/AIDS," paparnya dalam Konferensi Pers Pertemuan Nasional AIDS IV di Yogyakarta, Rabu(21/9)

Dirinya melanjutkan, kasus HIV/AIDS di Indonesia mengalami peningkatan. Bahkan saat ini, jumlah anak-anak yang sudah positif HIV/AIDS juga makin banyak. Menurutnya, hal ini bisa terjadi karena ibu si anak sudah terlebih dahulu membawa virus tersebut.

Di Yogyakarta sendiri, jumlah pengidap HIV/AIDS pun mengalami kenaikan delapan persen dari tahun lalu. Berdasarkan pernyataan Riswanto, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS DIY, jumlahnya mencapai 1.363 orang. Kurang lebih 120 orang di antaranya,justru berasal dari luar Yogyakarta.

"Untuk di Yogyakarta sendiri, kasus heteroseksual juga menjadi faktor tertinggi penularan virus. Bahkan, hal ini sudah terjadi pada anak-anak SMP," tambahnya.

Peningkatan kasus HIV di Indonesia,menurut Media Center Pernas AIDS IV, Syaiful W.Harahap disebabkan karena Indonesia tidak memiliki sebuah tes pendeteksi awal.

"Di Malaysia, ada sebuah tes surveillance yang diberlakukan pada semua ibu hamil. Dengan begitu, dari sejak awal,virus HIV sudah bisa diprediksi,"paparnya.

Dari kasus peningkatan HIV/AIDS di Indonesia, menurut Yanri, tak sebatas hanya melakukan terapi untuk proses pencegahannya. Menurutnya perlu ada sebuah sistem kesehatan yang mendukung dengan keterlibatan berbagai pihak yang terkait.

Satu hal yang terpenting lagi, tambahnya, perlu ada edukasi pada masyarakat terkait HIV/AIDS ini. Edukasi bisa dilakukan dengan keterlibatan dokter di masing-masing puskesmas.

"Pemakaian kondom di masyarakat masih rendah. Sejak tahun 2006, tidak lebih dari 20 persen laki-laki yang menggunakannya."